Media Sosial dan Kesehatan Mental

Penulis: Kristian Rizky Abdiel Lumban Raja

Perkembangan teknologi memiliki pengaruh yang cukup besar terhadap pola pikir masyarakatnya, mulai dari cara bersosialisasi hingga ke perspektif dalam memandang dan menilai seseorang yang pada jaman saat ini biasa disebut sebagai ‘First Impression’.

Budaya First Impression memberikan kebebasan terhadap orang-orang untuk menilai perilaku dan kehidupan seseorang sesuai dengan perspektifnya, ditambah lagi media sosial yang saat ini memberikan ruang yang lebih luas dan bebas lagi tentang kebebasan berekspresi dan berpendapat di media sosial.

(W, M.B.P. and Saputra, 2020, p. 189) mengatakan bahwa di jaman digital sekarang, penggunaan internet menjadi hal yang tak bisa dihindari. Terlebih lagi kebebasan berpendapat dan terlalu liarnya pergaulan sosial media di dunia maya bisa membuat seseorang terserang kesehatan mentalnya.

Gangguan mental dapat berupa kecemasan, depresi, rendahnya self-esteem, gangguan tidur, dan body image. Dan ini semua bisa didapatkan dengan sangat muda dari media sosial yang saat ini sudah menjadi kebutuhan sehari-hari dalam kehidupan manusia. Terlebih lagi para anak remaja yang tingkat kelabilan dan pendewasaannya masih kurang dan masih sangat butuh pengarahan dari orang dewasa, memang terbilang cukup sulit melihat setiap anak di jaman saat ini memiliki telepon genggamnya masing-masing. Kecenderungan seseorang terserang psikis dan kesehatan mentalnya dapat kita lihat dengan jalan pada berbagai media sosial baik itu Instagram, Facebook, Twitter, Whatsapp, dan lainnya.

Kecenderungan seseorang terserang mentalnya tidak hanya akibat orang lain atau komentar dalam media sosial saja. Karena media sosial juga menyebabkan kecanduan terhadap orang yang memakainya, salah satunya adalah selfistis. Menurut (Sari, 2021, p. 95) tentang selfistis sebagai gangguan kesehatan mental :

Selfistis adalah istilah untuk menggambarkan seseorang yang memiliki ego ingin melakukan selfie secara berlebihan. Selfistis dinyatakan sebagai gangguan kepribadian, jika perilaku tersebut mengganggu fungsi-fungsi kehidupan sehari-hari. Misalnya karena sibuk memfoto diri, pendidikan, pekerjaan dan aktivitas kehidupan sehari-hari terganggu. “

Narsis atau selfistis ini bisa membawa seseorang dalam gangguan kesehatan mental yang cukup berat dikarenakan pikiran yang terlalu berlebihan jika suatu saat mendapat komentar di sosial media yang sekiranya tidak cocok dengan ekspektasi yang dibuat oleh orang tersebut.

Illustration about social media troll harassing people on social media.

Tidak menutup kemungkinan bahwa komentar seseorang di sosial media memang bisa menyerang kondisi psikis seseorang bahkan hingga merubah kepribadiannya. Masa remaja merupakan masa dimana seseorang mulai mencari jati diri dan mengenali dirinya sendiri. sebagian besar dari cerminan dan jati diri yang terbentuk dalam dirinya juga seringkali berasal dari komentar orang lain terhadap dirinya sendiri, oleh karena itu komentar seseorang terhadap suatu individu apalagi seumuran remaja sangatlah krusial dalam menentukan kepribadian seseorang pada saat menginjak umur dewasa nantinya.

(Rachmatan and Rayyan, 2018, p. 121) dalam jurnal psikologi dan kesehatan mental mengatakan :

“Harga diri merupakan penilaian diri yang dipengaruhi oleh penghargaan dan penerimaan orang lain terhadap dirinya. Individu yang memiliki harga diri yang tinggi ditandai dengan adanya rasa penuh keyakinan, mempunyai kompetensi, bahkan mampu mengatasi masalahnya. Sebaliknya, individu yang memiliki harga diri rendah ditandai dengan adanya perilaku yang kurang aktif, tidak percaya diri, bahkan tidak mampu mengekspresikan diri. “

Dengan kebebasan berpendapat dan mengekspresikan opini dan pendapatnya di sosial media membuat seseorang juga merasa bebas dalam mengomentari penampilan atau perilaku seseorang di media sosial dengan sangat mudah, sehingga jika yang dikomentaripun masih belum memiliki konsep diri yang matang, bisa-bisa ia akan menilai dirinya sendiri sebagaimana seseorang menilai dirinya di sosial media. Akan sangat baik hasilnya jika komentar yang ia terima merupakan komentar yang baik dan membangun, namun jika yang ditemukan berbeda dari fakta dan merupakan ujaran kebencian maka akan berpengaruh sangat buruk bagi kesehatan mental korban.

(Ningrum and Amna, 2020, p. 37) mengatakan, “Di Indonesia, jumlah remaja yang menjadi korban cyberbullying dilaporkan sebesar 80 persen, dan hampir setiap harinya mengalami cyberbullying.”

Dari data tersebut dapat kita simpulkan bahwa kecenderungan remaja terjerat kasus bullying online atau yang juga dikenal sebagai cyberbullying memiliki intensitas yang sangat tinggi.

Dari kejadian-kejadian inilah sosial media menjadi alasan utama seseorang terserang penyakit mental yang cukup serius mulai dari mengalami kesedihan, frustasi dan masalah psikologi berat lainnya yang bahkan bisa membawa seseorang ke tahap melakukan percobaan bunuh diri. Hal inilah yang seharusnya menjadi konsen masyarakat internet atau netizen karena nyawa seseorang bisa saja melayang akibat ketikan yang bahkan tidak memiliki nilai sama sekali di sosial media tetapi berpengaruh besar dalam psikis seseorang yang belum memilki konsep diri yang matang.

Deklarasi Umum Hak Asasi Manusia (DUHAM) pada pasalnya yang ke 19 membahas tentang kebebasan berpendapat dan berekspresi menyimpulkan setiap orang berhak atas kebebasan mempunyai dan mengeluarkan pendapat dan berekspresi tanpa gangguan atas pendapatnya.

Pendapat tersebut juga bisa digunakan untuk mencari, menerima dan menyampaikan keterangan-keterangan dan pendapat dengan cara apa pun dan dengan tidak memandang batas-batas. Pasal 19 dalam DUHAM inilah yang seringkali menjadi alasan banyak orang untuk melakukan cyberbullying sehingga tidak terkena penghakiman.

(Marwadianto, 2020, p. 4) mengatakan bahwa kebebasan berpendapat merupakan kebebasan yang bersifat tanpa paksaan dan absolut, sedangkan kebebasan berekspresi masih bisa dibatasi dengan ketentuan tertentu.

(Restu Yogi Fahlevi, Ah Yusuf, 2020, p. 42) dalam penelitiannya juga mengatakan, korban cyberbullying mengalami kecemasan sosial sedang namun masih terdapat remaja yang mengalami kecemasan sosial tinggi (8,8%). Kecemasan yang didapatkan untuk bersosialisasi terhadap lingkungannya, contoh konkret yang pernah viral dan terkenal merupakan kasus bowo tiktok yang mengalami perundungan online sehingga tidak berani untuk keluar dari rumah.

Media sosial dan kesehatan mental memang memiliki hubungan yang sangat erat. Hal ini dapat terlihat dari kasus-kasus serangan kesehatan mental yang seringkali berasal dari media sosial.

Seperti yang dikatakan oleh (Sudrajat, 2020, p. 50), “Juga tidak ada alasan untuk berpikir bahwa selibat digital akan membantu mereka menjadi orang dewasa yang lebih sehat, lebih bahagia, dan lebih cakap.”

Maka dari itu memanfaatkan teknologi dan media sosial yang ada perlu strategi yang cukup matang untuk menambah wawasan dan meminimalisir kejadian cyberbullying yang sampai sekarang menjadi perjuangan yang masih terus diperjuangkan dan menjadi isu utama dalam dunia kesehatan mental terlebih lagi dalam kalangan remaja yang saat ini merupakan generasi paling aktif dalam menggunakan media sosial. Oleh karena itu peran orang dewasa juga menjadi hal yang penting melihat sebagian besar korban yang mengalami perundungan ini adalah anak dibawah umur yang juga tidak jarang disebabkan oleh komentar jahat orang dewasa. Mari kita bersama membangun indonesia yang sehat dalam sosial media sehingga Golden Indonesia 2045 juga dapat tercapai dengan baik. (dar/nata/red)

Referensi :

  • Marwadianto, M. (2020) ‘Hak Atas Kebebasan Berpendapat dan Berekspresi’, Jurnal HAM, 11(1), pp. 1–4. Available at: https://ejournal.balitbangham.go.id/index.php/ham/article/view/976/pdf.
  • Ningrum, F. S. and Amna, Z. (2020) ‘Cyberbullying Victimization dan Kesehatan Mental pada Remaja’, INSAN Jurnal Psikologi dan Kesehatan Mental, 5(1), p. 35. doi: 10.20473/jpkm.v5i12020.35-48.
  • Rachmatan, R. and Rayyan, R. (2018) ‘Harga Diri dan Perundungan Siber pada Remaja’, INSAN Jurnal Psikologi dan Kesehatan Mental, 2(2), p. 120. doi: 10.20473/jpkm.v2i22017.120-126.
  • Restu Yogi Fahlevi, Ah Yusuf, and I. K. (2020) ‘FUNDAMENTAL AND MANAGEMENT Hubungan Cyberbullying dengan Kecemasan Sosial dan Penarikan’, Fundamental and Managementnursing Journal, 3(2), pp. 38–45.
  • Sari, D. P. (2021) ‘Gangguan Kepribadian Narsistik dan Implikasinya Terhadap Kesehatan Mental’, Islamic Counseling : Jurnal Bimbingan dan Konseling Islam, 5(1), pp. 93–114. Available at: http://journal.iaincurup.ac.id/index.php/JBK/article/view/2633.
  • Sudrajat, A. (2020) ‘Apakah Media Sosial Buruk untuk Kesehatan Mental dan Kesejahteraan? Kajian Perspektif Remaja’, Jurnal Tinta, 2(1), pp. 41–52. doi: 10.35897/jurnaltinta.v2i1.274.
  • W, R. N. W., M.B.P., R. L. and Saputra, W. T. (2020) ‘Penggunaan Media Sosial Sehat Untuk Mencegah Gangguan Mental menjadi penyakit dengan angka menyepelekan penting dalam beberapa dekade hanya bebas dari penyakit fisik , Sebuah studi dari The Global Burden of Disease yang dilakukan oleh IMHE ( The Institute’, Ikraith-Abdimas, 3(3), pp. 189–197.